Cara Menentukan HS Code – Dalam dunia ekspor-impor, HS Code (Harmonized System Code) adalah elemen yang sangat penting. Setiap produk yang diekspor atau diimpor wajib memiliki kode HS agar bisa dikenali secara internasional. HS Code bukan sekadar nomor, tetapi penentu kelancaran perdagangan lintas negara karena berkaitan langsung dengan bea masuk, tarif pajak, hingga regulasi ekspor-impor di berbagai negara. Sayangnya, banyak eksportir pemula sering kebingungan dalam menentukan HS Code produk mereka. Kesalahan dalam memilih kode HS bisa menimbulkan masalah serius: mulai dari keterlambatan pengiriman, denda bea cukai, hingga kerugian finansial. Kami akan membahas langkah-langkah praktis bagaimana cara menentukan HS Code produk ekspor dengan benar.
HS Code adalah sistem klasifikasi barang internasional yang dikembangkan oleh World Customs Organization (WCO). Kode ini terdiri dari serangkaian angka (biasanya 6 digit standar internasional, tetapi bisa diperluas hingga 8 atau 10 digit tergantung aturan negara).
Contoh sederhana:
- HS Code 0902.30 → menunjukkan tea, black (fermented) and partly fermented tea, in immediate packings.
- HS Code 0803.90 → mengacu pada pisang segar atau kering.
Dari kode ini, bea cukai di seluruh dunia bisa langsung tahu produk apa yang Anda kirimkan.
Mengapa Cara Menentukan HS Code Produk Ekspor dengan Benar Sangat Penting?

- Menentukan Tarif Bea Masuk
Setiap negara punya tarif pajak berbeda untuk produk tertentu. HS Code adalah dasar perhitungan tarif tersebut. - Kepastian Regulasi
Ada produk yang dilarang masuk ke suatu negara, ada pula yang memerlukan sertifikat khusus. HS Code membantu memverifikasi hal ini. - Mempermudah Negosiasi Perdagangan
Dengan HS Code, buyer internasional bisa langsung mengetahui klasifikasi produk yang Anda tawarkan. - Menghindari Penalti Bea Cukai
Kesalahan HS Code bisa dianggap sebagai pelanggaran deklarasi barang.
Cara Menentukan HS Code Produk Ekspor dengan Benar

1. Kenali Spesifikasi Produk dengan Detail
Sebelum mencari HS Code, Anda harus benar-benar memahami detail produk:
- Bahan dasar (apakah dari kayu, plastik, logam, tekstil, dsb.)
- Fungsi utama produk
- Proses pembuatan (mentah, olahan, setengah jadi)
- Bentuk fisik (cair, padat, bubuk, granula, dll.)
Semakin detail informasi yang Anda miliki, semakin tepat klasifikasi HS Code produk Anda.
2. Gunakan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI)
Di Indonesia, referensi utama adalah BTKI (Buku Tarif Kepabeanan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Buku ini berisi daftar HS Code lengkap yang bisa digunakan eksportir maupun importir.
Caranya:
- Buka BTKI terbaru (tersedia online di website Bea Cukai).
- Cari berdasarkan kategori barang.
- Cocokkan deskripsi produk Anda dengan uraian yang tersedia.
3. Manfaatkan Fasilitas HS Code Finder Online
Banyak situs resmi maupun swasta menyediakan pencarian HS Code secara online, seperti:
- wcoomd.org (World Customs Organization)
- beacukai.go.id (untuk BTKI Indonesia)
- HS Code Finder dari marketplace ekspor seperti Alibaba atau Trade Map
Dengan mengetikkan kata kunci produk (misalnya “coconut oil” atau “wooden furniture”), Anda akan mendapat kode HS yang sesuai.
4. Konsultasikan dengan Bea Cukai atau Freight Forwarder
Jika masih ragu, jangan segan berkonsultasi dengan pihak yang berpengalaman:
- Bea Cukai: Mereka bisa membantu verifikasi HS Code resmi.
- Freight Forwarder: Karena sering mengurus dokumen ekspor, mereka biasanya tahu HS Code umum untuk berbagai produk.
- Asosiasi Eksportir: Beberapa asosiasi menyediakan daftar HS Code produk anggotanya.
5. Pelajari HS Code Negara Tujuan
Walaupun HS Code standar internasional menggunakan 6 digit, beberapa negara menambahkan digit lanjutan. Misalnya, HS Code produk kayu di Indonesia bisa berbeda detailnya di Amerika Serikat atau Uni Eropa. Pastikan Anda mengecek aturan negara tujuan ekspor agar tidak terjadi perbedaan klasifikasi.
Tips Menghindari Kesalahan Penentuan HS Code
- Jangan menebak-nebak → HS Code harus berdasarkan data dan referensi resmi.
- Hindari generalisasi → Produk yang mirip bisa punya HS Code berbeda tergantung bahan dasar atau proses pengolahan.
- Update secara berkala → BTKI atau aturan HS Code bisa berubah mengikuti kebijakan internasional.
- Simpan dokumentasi → Catat dan arsipkan HS Code produk Anda untuk konsistensi pada pengiriman berikutnya.
Contoh Kasus Singkat
Seorang eksportir UKM di Lombok ingin mengekspor kerajinan bambu. Setelah mengecek BTKI, produk ini masuk kategori “Barang anyaman dari bambu” dengan HS Code 4602.19. Jika ia salah mencantumkan sebagai “kayu olahan”, tarif bea masuk di negara tujuan bisa jauh lebih tinggi. Dengan HS Code yang tepat, biaya lebih efisien dan barang lolos bea cukai tanpa hambatan.
Cara menentukan HS Code produk ekspor dengan benar dengan benar adalah kunci kelancaran bisnis internasional. Proses ini memang membutuhkan ketelitian, namun sangat penting untuk menghindari kerugian. Mulailah dengan memahami detail produk, gunakan BTKI, manfaatkan HS Code finder, dan jangan ragu berkonsultasi dengan pihak berwenang. Dengan HS Code yang tepat, produk Anda akan lebih mudah diterima di pasar global, buyer lebih percaya, dan aktivitas ekspor semakin lancar.
”Kursus Pelatihan Kelas Belajar Ekspor Online.
Yuk daftar kursus ekspor di link ini via WA 0811 201 823 (Dara). Pasti bisa ekspor”